Belum sembuh luka lama sudah aku dibuat lagi sengsara
Seperti pepatah sudah jatuh lalu tertimpa tangga
Berapa luka lagi yang harus ku terima?
Berapa tangis lagi yang harus ku derita?
Mengobati sendiri luka yang ku punya walau raga kadang merasa tak kuasa
Namun dengan sisa keyakinan yang ada
Aku percaya sakit ini takkan berlangsung lama
Bila sudah tiba waktunya
Aku pasti akan tersenyum bahagia
Bahkan lupa rasanya luka lama yang pernah ku derita 🙂
Ini Isi Kepalaku
Kumpulan puisi
Kamis, 09 November 2017
Hampir terbiasa
Bersembunyi
Adakah yang lebih buruk dari perasaan sedih tapi hanya bisa di pendam?
Aku menyimpan sedihku dalam-dalam
Ku masukkan ke dalam peti dan ku tutup rapat-rapat
Agar tiada yang bisa melihat
Terlalu sedihnya bahkan mulut malas untuk menceritakan detailnya
Terlalu sedihnya sampai bingung harus cerita bagaimana
Menganggap diam jauh lebih mengobati daripada bercerita
Mulut diam tapi otak kacau
Tak punya hasrat untuk meracau
Hanya ingin diam dalam diam
Biarlah ku tanggung sedihku sendirian
Runtuh
Perasaan kacau itu datang lagi
Tak henti-henti menghampiri
Hancur lebur percayaku kali ini
Tak kusangka akan seperih ini
Ku bingung siapa yang jahat
Akulah si penjahat atau dialah sang penjahat?
Akhirnya aku merasa letih ketika hidup terasa semakin perih
Tertatih-tatih menahan pedih
Aku percaya takdir telah dituliskan sang maha pengasih
Aku percaya yang ditakdirkan untukku tidak akan tersisih
Tapi izinkanlah aku untuk sejenak merekatkan diriku
Karena kali ini hidup terlalu keras membenturkanku
Aku butuh waktu
Menyatukan remukkan diriku menjadi satu
Minggu, 08 Oktober 2017
Ikhlas
Mimpiku memilikimu sudah kulepas
Ia terbang tinggi dan terbebas
Kucoba pasrah dan berusaha ikhlas
Seperti anak melepas balon harapan
Berharap mimpi menjadi kenyataan
Bukan hanya menjadi angan-angan
Aku yakin tuhanku menyayangiku
Dialah yang paling tau betapa dalam rasaku
Sebab menceritakanmu pada tuhanku adalah kebiasaanku
Selasa, 01 November 2016
Bodohku
Kenapa sama kamu aku bisa sepercaya ini?
Kamu tidak perlu meyakinkan aku sudah percaya
Bak simsalabim
Kamu cukup berkata sekali aku akan percaya sampai mati
Bahkan kenyataan yang terjadi tidak melunturkan percayaku
Seperti hidup di alam mimpi
Sadar bodoh tapi tidak perduli
Sekelilingku berteriak padaku tapiku seperti tuli
Menyadarkanku kejahatanmu tapi ku tak mau tahu
Sekelilingku mengajakku membuka mata dan melihat sekelilingku
Tapi aku seperti tidak mau
Mataku selalu tertuju padamu
Sedang matamu ku tak tahu
Tanpa perduli mataku tetap tertuju padamu yang bahkan tak tentu kemana arah matamu
Aku percaya matamu pasti padaku